.
Renungan
“If today were the last day of my life, would I want to do what I’m about to do today?”


Friday, December 19, 2014

The Dew Drop


As the sun rose, a dew drop became aware of its surroundings. There it sat on a leaf, catching the sunlight and throwing it back out. Proud of its simple beauty, it was very content. 


Around it were other dew drops, some on the same leaf and some on other leaves round about. The dew drop was sure that it was the best, the most special dew drop of them all.

Ah, it was good to be a dew drop.

The wind rose and the plant began to shake, tipping the leaf. Terror gripped the dew drop as gravity pulled it towards the edge of the leaf, towards the unknown. 

Why? Why was this happening? Things were comfortable. Things were safe. Why did they have to change? Why? Why?

The dew drop reached the edge of the leaf. It was terrified, certain that it would be smashed into a thousand pieces below, sure that this was the end. The day had only just begun and the end had come so quickly. 

It seemed so unfair. It seemed so meaningless. It tried desperately to do whatever it could to cling to the leaf, but it was no use.


Finally, it let go, surrendering to the pull of gravity. Down, down it fell. Below there seemed to be a mirror. A reflection of itself seemed to be coming up to meet the dew drop. Closer and closer they came together until finally...

And then the fear transformed into deep joy as the tiny dew drop merged with the vastness that was the pond. Now the dew drop was no more, but it was not destroyed.


It had become one with the whole.

Tasting Life


Before the young man began his studies, he wanted assurance from the Master.


"Can you teach me the goal of human life?"

"I cannot," replied the Master.

"Or at least its meaning?"

"I cannot."

"Can you indicate to me the nature of death and of life beyond the grave?"

"I cannot."

The young man walked away in scorn. The disciples were dismayed that their Master had been shown up in a poor light.

Said the Master soothingly, "Of what is it to comprehend life's nature and life's meaning if you have never tasted it? I'd rather you ate your pudding than speculated on it."


Lesson Learned:

Be patient toward all that is unsolved in your heart and try to love the questions themselves... Do not now seek the answers, which cannot be given to you because you will not be able to live them. And the point is, to live everything. Live the questions now. Perhaps you will then gradually, without noticing it, live along some distant day into the answer.

Saturday, December 13, 2014

Ibarat Semut, Labah-Labah dan Lebah


Tiga binatang kecil ini menjadi nama dari tiga surah di dalam Al-Qur'an.An Naml (semut), Al 'Ankabuut (labah-labah), dan An Nahl (lebah).


Semut, menghimpun makanan sedikit demi sedikit tanpa berhenti. Konon, binatang ini dapat menghimpun makanan untuk bertahun-tahun. Padahal usianya tidak lebih dari setahun. Ketamakannya sedemikian besar sehingga ia berusaha - dan seringkali berhasil memikul sesuatu yang lebih besar dari tubuhnya.


Lain lagi huraian Al-Qur'an tentang labah-labah. Sarangnya adalah tempat yang paling rapuh (Al 'Ankabuut; 29:41), ia bukan tempat yang aman, apapun yang berlindung di sana akan binasa. Bahkan jantannya disergapnya untuk dihabiskan oleh betinanya. Telur-telurnya yang menetas saling berdesakan hingga dapat saling memusnahkan. Inilah gambaran yang mengerikan dari kehidupan sejenis binatang.


Akan halnya lebah, memiliki naluri yang dalam bahasa Al-Qur'an - "atas perintah Tuhan ia memilih gunung dan pohon-pohon sebagai tempat tinggal" (An Nahl;16:68). Sarangnya dibuat berbentuk segi enam bukannya lima atau empat agar efisen dalam penggunaan ruang. Yang dimakannya adalah serbuk sari bunga.

Lebah tidak menumpuk makanan. Lebah menghasilkan lilin dan madu yg sangat manfaat bagi kita. Lebah sangat disiplin, mengenal pembagian kerja, segala yang tidak berguna disingkirkan dari sarangnya. Lebah tidak mengganggu kecuali jika diganggu. Bahkan sengatannya pun dapat menjadi ubat.

Sikap kita dapat diibaratkan dengan berbagai jenis binatang ini. Ada yang berbudaya 'semut'. Sering menghimpun dan menumpuk harta, menumpuk ilmu yang tidak dimanfaatkan. Budaya 'semut' adalah budaya 'aji mumpung'.

Pemborosan, foya-foya adalah implementasinya. Entah berapa banyak juga jenis 'labah-labah' yang ada di sekeliling kita. Yang hanya berfikir: "Siapa yang dapat dijadikan mangsa"

Nabi Shalalahu 'Alaihi Wasallam mengibaratkan seorang mukmin sebagai 'lebah'. Sesuatu yang tidak merusak dan tidak menyakitkan :"Tidak makan kecuali yang baik, tidak menghasilkan kecuali yang bermanfaat dan jika menimpa sesuatu tidak merusak dan tidak pula memecahkannya"

Semoga kita menjadi ibarat lebah. Insya Allah!

Tuesday, December 9, 2014

Kasih Si Kecil


Seekor anak kucing yang kecil mungil sedang berjalan-jalan di ladang pemiliknya. Ketika dia mendekati kandang kuda, dia mendengar binatang besar itu memanggilnya. “Kamu mesti masih baru di sini, cepat atau lambat kamu akan mengetahui bahawa pemilik ladang ini mencintai saya lebih dari binatang lainnya. Kerana saya mampu mengangkut banyak barang untuknya, saya kira binatang sekecil kamu tidak akan bernilai sama sekali baginya”, ujarnya dengan sinis.


Kucing kecil itu menundukkan kepalanya dan pergi. Tapi, dari kandang sebelah, ia mendengar suara seekor lembu. “Saya adalah binatang yang paling terhormat di sini sebab puan di sini membuat keju dan mentega dari susu saya. Kamu tentu tidak berguna bagi keluarga di sini”, dengan nada mencemuh.

Belum lagi kesedihannya hilang, ia mendengar teriakan biri-biri. “Hai lembu, kedudukanmu tidak lebih tinggi dari saya. Aku memberi bulu kepada pemilik ladang ini. Saya memberi kehangatan kepada seluruh keluarga. Tapi kata-katamu soal kucing kecil itu, memang benar. Dia sama sekali tidak ada manfaatnya di sini.”

Satu demi satu binatang di situ ikut serta dalam pencemuhan itu, sambil menceritakan betapa tingginya kedudukan mereka di ladang itu. Ayam pun berkata bagaimana dia telah memberikan telur, Semua binatang sepakat kalau si kucing kecil itu adalah makhluk tak berguna dan tidak sanggup memberikan sumbangan apapun kepada keluarga itu.

Terpukul oleh kecaman binatang-binatang lain, kucing kecil itu pergi ke tempat sepi dan mulai menangis menyesali nasibnya. Sedih rasanya, sudah yatim piatu, dianggap tak berguna, disingkirkan dari pergaulan pula.

Ada seekor kucing tua di situ mendengar tangisan tersebut, lalu mendengar keluh kesah si kucing kecil itu. “Saya tidak dapat memberikan sumbangan kepada keluarga di sini, sayalah haiwan yang paling tidak berguna di sini…”

Terharu, kucing tua berkata, “Memang benar bahwa kamu terlalu kecil untuk menarik pedati. Kamu tidak berupaya memberikan telur, susu ataupun bulu. Tetapi bodoh sekali jika kamu menangisi sesuatu yang tidak mampu kamu lakukan. Kamu harus menggunakan kemampuan yang diberikan oleh Tuhan untuk membawa kegembiraan.”

Malam itu ketika pemilik ladang baru pulang dan kelihatan amat lelah kerana perjalanan jauh di panas terik matahari, kucing kecil itu lari menghampirinya, menjilat kakinya dan melompat ke pelukannya. Sambil menjatuhkan diri ke tanah, pemilik ladang dan kucing kecil itu berguling-guling di rumput disertai tawa ria.

Akhirnya pemilik ladang itu memeluk dia erat-erat dan mengelus-elus kepalanya, dan berkata, “Meskipun saya pulang dalam keadaan letih, tapi rasanya semua jadi sirna, bila kau menyambutku semesra ini. Kamulah yang paling berharga di antara semua binatang di ladang ini. Kamu kecil, tapi sangat mengerti ertinya kasih…”
  


Jangan sedih ketika kamu tidak dapat melakukan sesuatu seperti orang lain Kerana memang tidak memiliki kemampuan untuk itu. Tetapi apa yang kamu dapat lakukan, kerjakan itu dengan sebaik-baiknya. Dan jangan sombong jika kamu merasa banyak melakukan beberapa hal pada orang lain, kerana orang yang tinggi hati akan direndahkan dan orang yang rendah hati akan ditinggikan. Selalunya begitulah dalam hidup ini.

Saturday, December 6, 2014

Hati Seorang Ayah


Suatu ketika, ada seorang anak perempuan yang bertanya kepada ayahnya, tatkala tanpa sengaja dia melihat ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai berkerut-merut dengan badannya yang terbongkok-bongkok, disertai suara batuk-batuknya.



Anak perempuan itu bertanya pada ayahnya: "Ayah, mengapa wajah ayah kian berkerut-merut dengan badan ayah yang kian hari kian membongkok?"

Demikian pertanyaannya, ketika ayahnya sedang berehat di beranda.

Si ayah menjawab: "Sebab aku lelaki."

Anak perempuan itu berkata sendirian: "Saya tidak mengerti".

Dengan kerut-kening kerana jawapan ayahnya membuatnya termenung rasa kebingungan.

Ayah hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anaknya itu, terus menepuk-nepuk bahunya, kemudian si ayah mengatakan: "Anakku, kamu memang belum mengerti tentang lelaki."

Demikian bisik Si ayah, yang membuat anaknya itu bertambah kebingungan.

Kerana perasaan ingin tahu, kemudian si anak itu mendapatkan ibunya lalu bertanya kepada ibunya: "Ibu, mengapa wajah Ayah jadi berkerut-merut dan badannya kian hari kian membongkok? Dan sepertinya ayah menjadi demikian tanpa ada keluhan dan rasa sakit?"

Ibunya menjawab: "Anakku, jika seorang lelaki yang benar-benar bertanggungjawab terhadap keluarga itu memang akan demikian."

Hanya itu jawapan si ibu. Si anak itupun kemudian membesar dan menjadi dewasa, tetapi dia tetap juga masih tercari-cari jawapan, mengapa wajah ayahnya yang tampan menjadi berkerut-merut dan badannya menjadi membongkok?

Hingga pada suatu malam, dia bermimpi. Di dalam impian itu seolah- olah dia mendengar suara yang sangat lembut, namun jelas sekali. Dan kata-kata yang terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian kalimah sebagai jawapan rasa kebingungannya selama ini.

"Saat Ku-ciptakan lelaki, aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga, dia senantiasa akan berusaha untuk menahan setiap hujungnya, agar keluarganya merasa aman, teduh dan terlindung."

"Ku ciptakan bahunya yang kuat dan berotot untuk membanting-tulang menghidupi seluruh keluarganya dan kegagahannya harus cukup kuat pula untuk melindungi seluruh keluarganya."

"Ku berikan kemahuan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yang berasal dari titisan keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar keluarganya tidak terlantar, walaupun seringkali dia mendapat cercaan dari anak-anaknya".

"Ku berikan keperkasaan dan mental baja yang akan membuat dirinya pantang menyerah, demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari, demi keluarganya dia merelakan badannya berbasah kuyup kedinginan dan kesejukan kerana tersiram hujan dan dihembus angin, dia relakan tenaga perkasanya dicurahkan demi keluarganya, dan yang selalu dia ingat, adalah disaat semua orang menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih- payahnya."

"Kuberikan kesabaran, ketekunan serta kesungguhan yang akan membuat dirinya selalu berusaha merawat dan membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah, walaupun disetiap perjalanan hidupnya keletihan dan kesakitan kerapkali menyerangnya".

"Ku berikan perasaan cekal dan gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai dan mengasihi keluarganya, didalam suasana dan situasi apapun juga, walaupun tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya, melukai hatinya.

Padahal perasaannya itu pula yang telah memberikan perlindungan rasa aman pada saat dimana anak-anaknya tertidur lelap. Serta sentuhan perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya agar selalu saling menyayangi dan saling mengasihi sesama saudara."

"Ku berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengertian dan kesedaran terhadap anak-anaknya tentang saat kini dan saat mendatang, walaupun seringkali ditentang bahkan dikotak-katikkan oleh anak-anaknya."

"Ku berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan dan menyedarkan, bahawa isteri yang baik adalah isteri yang setia terhadap suaminya, isteri yang baik adalah isteri yang senantiasa menemani, dan bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka mahupun duka, walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada isteri, agar tetap berdiri, bertahan, sepadan dan saling melengkapi serta saling menyayangi."

"Ku berikan kerutan diwajahnya agar menjadi bukti, bahawa lelaki itu senantiasa berusaha sekuat daya fikirnya untuk mencari dan menemukan cara agar keluarganya dapat hidup didalam keluarga bahagia dan badannya yang terbongkok agar dapat membuktikan, bahawa sebagai lelaki yang bertanggungjawab terhadap seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan sekuat tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya, kesungguhannya demi kelanjutan hidup keluarganya."

"Ku berikan kepada lelaki tanggungjawab penuh sebagai pemimpin keluarga, sebagai tiang penyangga (seri / penyokong), agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh lelaki, walaupun sebenarnya tanggungjawab ini adalah amanah di dunia dan akhirat."

Terkejut si anak dari tidurnya dan segera dia berlari, berlutut dan berdoa hingga menjelang subuh. Setelah itu dia hampiri bilik ayahnya yang sedang berdoa, ketika ayahnya berdiri si anak itu menggenggam dan mencium telapak tangan ayahnya.

"Aku mendengar dan merasakan bebanmu, ayah."


Bila ayah anda masih hidup jangan sia-siakan kesempatan untuk membuat hatinya gembira. Bila ayah anda telah tiada, jangan putuskan tali siratulrahim yang telah dirintisnya dan doakanlah agar Tuhan selalu menjaganya dengan sebaik-baiknya.

Tuesday, December 2, 2014

The Power of Concentration


The powers of the mind are like the rays of the sun. When they are concentrated, they illumine.


When I was a child, I saw how a magnifying glass could burn a piece of paper, when the rays of the sun were focused through it on one point. The fire could only be ignited, when the sun's rays were concentrated on a small point. When the magnifying glass was moved too far away, or too close to the paper, the rays were not focused enough, and nothing happened.

This experience, describes vividly, how the power of concentration works. It is a skill, which enables you to fix your attention on one single thought or subject, while at the same time excluding from your awareness everything else.

The power of concentration manifests as focused attention and as a one pointed mind.

When you focus your mind, you conserve your energies and do not dissipate them on irrelevant thoughts or activities. This is why, developing concentration is vital for anyone aspiring to be more efficient and take charge of his or her life. This skill is vital for every kind of success. Without it, your efforts get scattered, but with it, you can accomplish great things.

Concentration has many uses and benefits. It assists in studying, enables faster comprehension, improves the memory, helps in focusing on a task, job or goal, and therefore, achieving them more easily and efficiently. It is a powerful tool for the efficient use of creative visualization, and it also helps in developing psychic powers.

When this ability is strong, the mind obeys you more readily and does not engage in futile, negative thoughts or worries. This ability plays an important role in meditation, gaining mental mastery, and attaining peace of mind.

Without it, the mind just jumps restlessly from one thought to another, not allowing you to meditate properly.

Do you now realize why it is very important and worthwhile to develop and improve the ability to concentrate?


To develop this power you need to train and exercise it. Forget all your excuses about not having the time or being too busy. Do not say that the circumstances are not appropriate, or that you cannot find a quiet place to exercise. With a little planning, desire and motivation, you can always find the time to exercise each day, no matter how busy you are.

Monday, December 1, 2014

Tiga Budak Hitam


Tiga orang budak hitam berjalan-jalan di atas pasir di persisiran sebuah pantai. Tiba-tiba seorang dari mereka tertendang sebiji botol. Beliaupun mengambil botol tersebut. Botol tersebut tertutup rapat dengan penutup gabus. Kesemua mereka kehairanan dan tertanya-tanya apa yang ada di dalam botol tersebut. Lalu salah seorang dari mereka pun membukanya. Terbuka sahaja botol tersebut, keluarlah seekor jin yang amat besar.


Jin tersebut ketawa-terbahak-bahak lalu berkata " Siapakah engkau hai manusia yang telah membebaskan aku? Aku telah terkurung dalam botol ini selama 20 tahun. Dalam masa terkurung aku telah bersumpah akan menyempurnakan 3 hajat sesiapa yang membebaskan aku dari botol ini.. Nah! Sekarang kamu semua pintalah apa-apa, akan aku tunaikan permintaanmu"

Ketiga-tiga budak hitam itu mulanya terkejut tetapi bergembira apabila jin tersebut menawarkan untuk menunaikan permintaan mereka. Jin pun berkata kepada budak yang pertama, " Pintalah!" Budak hitam pertama pun berkata . "Tukarkanlah aku menjadi putih supaya aku kelihatan cantik" Jin pun menunaikan permintaannya. Lalu budak itu pun menjadi putih. Jin pun berkata kepada budak hitam kedua,"Pintalah!".

Budak hitam kedua pun berkata ." Tukarkanlah aku menjadi putih dan kelihatan cantik, lebih putih dan cantik daripada budak yang pertama". Jin pun menunaikan permintaannya. Lalu budak itu pun menjadi putih dan cantik lebih daripada budak yang pertama. Jin pun berkata kepada budak hitam ketiga, "Pintalah!". Budak hitam ketiga pun berkata ."Tukarkanlah aku menjadi putih dan kelihatan cantik, lebih putih dan cantik daripada budak yang pertama dan kedua".

Jin pun berkata. " Tidak, permintaan itu tidak dapat aku perkenankan. Pintalah yang lain..." Budak hitam ketiga kehairanan dan terfikir-fikir apa yang mahu dipintanya.

Setelah lama berfikir, budak hitam ketiga pun berkata " Kalau begitu, aku pinta kau hitamkan kembali rakan aku yang dua orang itu" Lalu jin pun tunaikan permintaannya. Kembalilah asal hitam kedua-duanya. Jin pun berlalu dari situ dan ketiga-tiga mereka tercengang-cengang dan tidak memperolehi sesuatu apa pun.
  

Sikap dengki, cemburu dan irihati seringkali bersarang di hati manusia. Manusia tidak suka melihat orang lain lebih dari mereka dan mengharapkan mereka lebih dari orang lain. Mereka juga suka melihat nikmat orang lain hilang. Sikap ini sebenarnya pada akhirnya merugikan manusia sendiri.

Sunday, November 30, 2014

Air Mata Mutiara


Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengeluh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembik.


"Anakku," kata sang ibu sambil bercucuran air mata, "Tuhan tidak memberikan pada kita, bangsa kerang, sebuah tangan pun, sehingga ibu tak dapat menolongmu."

Si ibu terdiam, sejenak, "Aku tahu bahawa itu sakit anakku. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam. Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan perit yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang mampu kau lakukan", kata ibunya dengan sendu dan lembut.

Anak kerang pun melakukan nasihat bondanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit terkadang masih terasa. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya.

Tetapi tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar. Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar.

Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, kukuh berkilat, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna. Penderitaannya berubah menjadi mutiara; air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.

  


Cerita di atas adalah sebuah paradigma yg menjelaskan bahwa penderitaan adalah lorong transendental untuk menjadikan "kerang biasa" menjadi "kerang luar biasa". Kerana itu dapat dipertegaskan bahawa kekecewaan dan penderitaan dapat mengubah "orang biasa" menjadi "orang luar biasa".

Banyak orang yang mundur saat berada di lorong transendental tersebut, kerana mereka tidak tahan dengan cubaan yang mereka alami. Ada dua pilihan sebenarnya yang dapat mereka pilih: menjadi `kerang biasa' yang disantap orang atau menjadi `kerang yang menghasilkan mutiara'. Sayangnya, lebih banyak orang yang mengambil pilihan pertama, sehingga tidak mengherankan bila jumlah orang yang berjaya lebih sedikit dari orang yang `biasa-biasa saja'.

Mungkin saat ini kita sedang mengalami penolakan, kekecewaan, patah hati, atau terluka kerana orang-orang di sekitar kamu cubalah utk tetap tersenyum dan tetap berjalan di lorong tersebut, dan sambil katakan di dalam hatimu..


"Airmataku diperhitungkan Tuhan dan penderitaanku ini akan mengubah diriku menjadi mutiara."

Wednesday, November 26, 2014

Kisah Sebuah Jam


Alkisah, seorang pembuat jam tangan berkata kepada jam yang sedang dibuatnya. "Hai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetik paling tidak 31,104,000 kali selama setahun?"


"Ha?," kata jam terperanjat, "Mana sanggup saya?"

"Bagaimana kalau 86,400 kali dalam sehari?" tanya si pembuat jam.

"Lapan puluh enam ribu empat ratus kali? Dengan jarum yang ramping-ramping seperti ini?" jawab jam penuh keraguan.

"Bagaimana kalau 3,600 kali dalam satu jam?" cadang si pembuat jam.

"Dalam satu jam harus berdetik 3,600 kali? Banyak sekali itu" tetap saja jam ragu-ragu dengan kemampuan dirinya.

Tukang jam dengan penuh kesabaran kemudian berkata lagi kepada si jam. "Kalau begitu, sanggupkah kamu berdetik satu kali setiap detik?"

"Oh, kalau begitu, aku sanggup!" kata jam dengan penuh semangat.

Maka, setelah selesai dibuat, jam itu berdetik satu kali setiap detik. Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar biasa kerana ternyata selama satu tahun penuh dia telah berdetik tanpa henti. Dan itu bererti ia telah berdetik sebanyak 31,104,000 kali.


Ada kalanya kita ragu-ragu dengan segala tugas pekerjaan yang begitu terasa berat. Namun sebenarnya kalau kita sudah menjalankannya, kita ternyata mampu. Bahkan yang kita anggap mustahil untuk dilakukan sekalipun.

Saturday, November 22, 2014

Cermin Diri Hiasi Diri


Pesan seorang Doktor yang selalu mengingatkan saya tentang realiti hidup …


Seringkali impian terbesar kita dapat ditemukan dalam ketakutan terbesar kita. Semakin kita merasa bijak harusnya membuat kita semakin menyedari bahwa ada banyak hal yang belum kita ketahui dalam hidup ini.

Kejayaan atau kegagalan kita dalam pencapaian biasanya berkaitan dengan kemampuan membina hubungan antara sesama kita. Kebanyakan orang berjaya kerana mereka menetapkan hati untuk itu. Investasi yang terbaik adalah investasi pada diri kita sendiri berupa pengetahuan dan skill.

Jabatan yang tinggi tanpa disertai Attitude (sikap & karakter) yang baik, akan menghancurkan kehidupan seseorang sampai titik yg paling rendah. Salah satu musuh kemajuan diri kita adalah Comfort Zone.

Nikmati hal-hal kecil dalam hidup ini, kerana mungkin suatu hari kita baru menyedari itu adalah hal besar. Untuk mampu meraih pencapaian yang lebih besar dari sekarang, kita perlu memperbesar kapasiti diri kita. Beberapa orang hidup dalam penjara yang membatasi dirinya namun bukan penjara besi melainkan penjara pikirannya sendiri.

Kemampuan mengerti atau memahami orang lain adalah salah satu kunci sukses dalam menjalin hubungan. Ucapkan dalam doa kita setiap hari bahwa saya perlu Engkau Tuhan dalam seluruh aspek hidup saya. Apabila kita memiliki kebesaran hati maka kita tidak akan mudah marah, kecewa dan tersinggung.

Kejayaan dalam hidup tidak datang degan sendirinya, kita yang harus pergi meraihnya. Pastikan diri kita dikenal sebagai sumber solusi bukan sumber masalah. Jangan biarkan kemajuan diri kita dihalangi oleh kebiasaan-kebiasaan buruk.

Upgrade terus kualiti diri kita, agar kita senantiasa memiliki nilai tambah. Di dalam diri kita sudah diberikan Tuhan kemampuan yang sangat hebat untuk kita gunakan secara maksima. Komitmen dan konsistensi ke sasaran yang tepat akan membuahkan hasil.

Nyatakan hari ini bahawa "Tuhan aku perlu tuntunan-Mu senantiasa dlm seluruh aktivitiku hari ini."

Seandainya saja kita selalu benar-benar berpikir sebelum bertindak pasti penyesalan jarang terjadi. Jika kita selalu menantikan kondisi yang sempurna maka kita tidak akan pernah melakukan apapun. Orang yang rendah hati akan belajar lebih banyak berbanding orang yang arogan.

Sukses bukanlah final, gagal bukanlah fatal; dan keberanian untuk melanjutkan adalah hal yang paling utama. Tidak masalah bagaimana lambatnya Anda berjalan. Yang penting Anda tidak berhenti. Dua puluh tahun dari sekarang, Anda akan lebih kecewa terhadap hal-hal yang tidak Anda lakukan, daripada hal-hal yang telah Anda lakukan.

Kebanyakan orang berjaya bukan kerana mereka menetapkan hati untuk itu. Ketika rintangan meningkat, anda mampu mengubah arah menuju sasaran anda, tapi jangan mengubah keputusan anda untuk mencapainya.

Kejayaan tidak diukur dari posisi yang telah dicapai seseorang dalam hidupnya, tapi dari rintangan yang berjaya dilaluinya ketika mereka berusaha mencapai kejayaan. Perubahan adalah hukum kehidupan. Dan orang yang hanya melihat ke masa lalu atau masa sekarang pasti akan melewatkan masa depan.

Masalah adalah kesempatan bagi Anda untuk melakukan yang terbaik dalam kehidupan. Jangan biarkan kekecewaan hari kemarin mengalihkan impian hari esok. Kualiti hidup seseorang berkadar terus dengan komitmen mereka terhadap kesempurnaan, terlepas dari apapun bidang yang mereka pilih.

Keinginan adalah kunci dari motivasi, tapi ketetapan hati dan komitmen yang akan membawa Anda mencapai sukses. Anda harus bangun setiap pagi dengan tekad untuk sukses, bila Anda ingin tidur dengan penuh kepuasan.

Rahsia sukses adalah konsisten terhadap tujuan Anda setiap harinya. Harga untuk sukses adalah kerja keras, dedikasi, dan ketetapan hati bahwa kita telah memberikan yang terbaik untuk pekerjaan kita. Perbedaan antara "Yang Tidak Mungkin" dan "Yang Mungkin" terletak di dalam tekad seseorang.


Jagalah diri Anda agar selalu bersih dan terang; Anda adalah jendela, dimana melaluinya-lah, Anda akan melihat dunia.